#1
Matahari
telah menaiki singgasananya. Sedangkan bulan dan bintang bersembunyi dibalik
mega karena kalah terang dengan sang pancaran sinar matahari seakan-akan
cahayanya tak akan pernah mati.
Sama halnya dengan suasana
hatiku saat ini. Cerah . “bawaannya pengin senyum terus”batinku. Bersiul-siul,
bernyanyi-nyanyi gak jelas itulah yang ku lakukan. Sampai pada akhirnya kak
Fikry melihat tingkah lakuku yang dimatanya merupakan hal yang begitu konyol.
“sudah gila, ditambah gila. Makin
menjadi-jadi gilanya. Gila kok dipelihara!” ucapnya sambil berlalu
“biarin. Jadi orang sirik
saja, sih !” sindirku sedang yang di sindir tidak merespon
“jadi orang jangan terlalu
serius nanti jadi....” langkahnya terhenti dan memotong pembicaraanku
“GILA....!!!” sambil
mendelikkan matanya yang kuanggap sangat menjijikkan.
“bukan aku yang ngomong”
jawabku memancing emosinya kak Fikry. Kak Fikry gemas melihat tingkahku
sampai-sampai keluar asap dari hidung dan kedua telinganya
“Mauraaaaa!!!!!!” geramnya
“apa ?”
“Mauraaaaaaa!!!!!” geramnya
lagi sambil menahan amarahnya
“Waduh...kayaknya,
bakal ada perang dunia ketiga, nih. Lari, ah. Takut kena serangan bom meriam. “
bisik batinku
Aku berlari kocar-kacir demi melindungi diri. Sedangkan kak
Fikry mengejarku seperti banteng yang kelaparan dan haus akan darah. Tetapi aku
berlari kalah cepat dengan kak Fikry. Ia berhasil menangkapku sambil menjewer
telingaku di tambah lagi kata-kata makian yang ia lontarkan kepadaku.
“kamu ini....sama orang nggak
ada sopan santunnya. “ ucapnya sambil menjewer telingaku
“ampun” sambilmeringis
kesakitan
“pokoknya kamu harus minta
maaf !” pintanya masih dengan menjewer telingaku
“tak sudi!” jawabku seadanya. Setelah
aku berucap seperti itu, ia malah menambah hukuman untukku. Selain dijewer,
juga dicubit. Di cubitnya dengan di putar-putar pada bagian tanganku.
“aaaaaaa.......”
“minta maaf !”
“iya-iya aku minta maaf, kak
yang gila”
“mauraaaa.....” dengan
senyumnya yang sangat menyeramkan bagaikan seekor harimau yang ingin menerkam
mangsanya.
“iya,,,,Maura minta maaf wahai
kakakku yang baik, tampan, dan gak gila” aku memujinya sedang yang di puji
malah ketawa-ketiwi sendiri
“eh....malah ketawa. Cepat lepaskan tanganmu. Sepertinya kamu bahagia
kalau aku di siksa, hah ?” tambahku
“iya-iya sabar sedikit. Jangan
ngoceh mulu. Suaramu itu sudah jelek kayak kaleng. Jadi jangan membuatku pusing
dan mual karena suaramu” Tandasnya sambil melepaskan tangannya
“bodo amat...”
BERSAMBUNG